Hutan Mangrove Teluk Ambon Dalam Areal Kehidupan yang Menuju Kemusnahan?!
Setelah membaca judul diatas, apakah anda menginginkan hal itu terjadi. Tentu saja , selaku mahasiswa yang disebut kaum intelek akan serentak menjawab ‘ TIDAK’. Namun, apakah jawaban tersebut dilontarkan karena kepedulian akan makin berkurangnya komunitas tersebut atau hanya ikut-ikutan tanpa tahu apa dan fungsi mangrove yang sebenarnya? Sungguh menyedihkan, kita yang adalah mahasiswa Maluku yang notabenenya hidup dengan mangrove disekeliling kita, tidak tahu apa itu sebenarnya mangrove terutama yang berada di Teluk Ambon Dalam. Berikut BUMI akan menyajikannya untuk kalian semua betapa pentingnya ekosistem tersebut bagi kita . Are u ready ?
Go….
Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat disepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, sebaliknya tidak tumbuh dipantai yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut yang kuat karena hal ini tidak memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur dan pasir, substrat untuk pertumbuhannya.Namun, bila pengendapan dan sedimentasi yang berlebihan akan berakibat fatal bagi mangrove itu sendiri dengan tertutupnya akar napas (pneumatofor). Bukti nyatanya ada pada desa Lateri Kecamatan Baguala, sedimentasi besar-besaran terjadi akibat pembangunan kompleks perumahan.Ekosistem rusak, belum lagi kerugian lainnya yang timbul bagi masyarakat sekitar. Sebelumnya,perlu diluruskan, bahwa kebanyakan masyarakat Maluku khususnya di Kota Ambon menyebutkan mangrove sebagai bakau dan mange-mange,itu benar. Namun, yang disebutkan adalah jenisnya (spesies), sedang yang terlihat adalah komunitasnya dan lebih dari satu jenis (baca:mangrove).
Negara kita merupakan negara dengan ekosistem mangrove terluas didunia, serta vegetasi dan keragaman jenus yang tinggi. Tercatat mencapai 158 jenis yang terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis epifit, dan 1 jenis sikas. Di Maluku luas hutan mangrove mencapai ± 1,19 juta ha dan tersebar luas diseluruh pulau, terdiri dari 40 jenis pohon dari 24 suku yang ada.Melalui hasil foto udara yang dilakukan di desa Passo tahun 1986 menunjukan luasan hutan mangrove sebesar 19,2 ha dengan luasan vegetasi mangrove sebesar 15,4 ha dan luasan vegetasi Nypa mencapai 3,8 ha. Terkait dengan data tersebut pada tahun 2004 hasil analisa data citra satelit (ECONOS) menampilkan luasan hutan mangrove desa Passo sebesar 6,84 ha. Berdasarkan perbandingan terhadap kedua data diatas maka didapat kawasan hutan mangrove selama kurun waktu 18 tahun mengalami penurunan areal sebesar 23,36 ha atau sebesar 0,68 ha pertahun. Sungguh menyedihkan, semakin lama areal mangrove di Teluk Ambon Dalam (TAD) mungkin akan benar-benar musnah, lalu berapa hektar areal hutan yang masih dapat kita sisakan bagi anak cucu kita?
Hutan ini bukan sekedar hutan yang hanya menjadi pelindung dan mahkluk hidup yang menghiasi tepi pantai begitu saja, namun hutan ini merupakan ekosistem yang multifungsi. Baik secara biologi, fisik maupun ekonomis. Secara biologi hutan mangrove berfungsi sebagai daerah asuhan (nursery ground) , mencari makan (feeding ground) , serta sebagai daerah pemijahan (spawning ground) bagi berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut lainnya. Secara fisik hutan mangrove berfungsi sebagai penahan angin, penyaring bahan pencemar penahan ombak, pengendali banjir dan mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan. Selain fungsi fisik tersebut, mangrove juga penting dalam melindungi garis pantai dari abrasi, akar-akar yang kokoh dapat meredam pengaruh gelombang, serta menahan lumpur hingga lahan mangrove bisa semakin luas tumbuh keluar. Fungsi ekonomisnya yakni, sebagai penghasil kayu untuk dijadikan bahan bakar dan bahan bangunan, bahan makanan, dan obat-obatan.
Dari fungsi dan manfaat yang disebutkan diatas, maka sering kali secara tidak sengaja hutan mangrove sering disalahgunakan oleh manusia melalui pemanfaatan yang berlebihan yang dapat merusak ekosistem mangrove, seperti penangkapan ikan, bameti, pembuangan sampah dan hajat, sehingga lama-kelamaan terjadi penurunan areal hutan mangrove dan tidak menutup kemungkinan kemusnahan akan terjadi .
Pada hakekatnya fugsi-fungsi positif dari hutan mangrove diatas dapat dimanfaatkan secara optimal apabila pertumbuhannya sejalan dengan pemanfaatannya.Oleh karena pelestarian terutama kepedulian kita akan mangrove perlu ditingkatkan, bukan hanya lewat teori dan kata-kata, tapi diperlukan bukti nyata. Siapkah anda?
(E’Kuch!eNkZzz)
*berbagai sumber
NB: tulisan ini diterbitkan pertama kali pada Buletin Matepala Independen (BUMI) edisi April 2007
Komentar
Posting Komentar