10 Tahun Mendatang Teluk Ambon Terancam Hancur?!
Setelah
membaca judul artikel ini, apa yang
saudara pikirkan atau bagaimana tanggapan yang diberikan? Kaget, senang,
prihatin, atau tidak sama sekali. Bagi yang prihatin , sekedar prihatin saja
atau sudahkah anda melakukan ‘ sesuatu’ yang berharga bagi lingkungan, jangan
berpikir terlalu jauh untuk Teluk Ambon dulu, pada lingkungan rumah anda,
sudahkah anda melakukan ‘ sesuatu ‘ itu ?
Begitulah yang
akan terjadi pada Teluk Ambon kita pada tahun-tahun yang akan datang, HANCUR.
Dan yang terjadi selanjutnya ialah kematian organisme (ikan, tiram, udang,
kepiting, dll) dalam teluk secara bertahap, tidak ada lagi yang dapat
dimanfaatkan dari teluk. Mungkin satu-satunya fungsi yang berjalan maksimal
hanyalah fungsi transportasi. Selain itu, tidak ada sama sekali.
Sebelum
mengetahui lebih jauh apa yang akan menimpa Teluk Ambon mendatang, mari kita
lihat yang terjadi sekarang. Berdasarkan keterangan yang didapat dari narasumber, yakni salah satu dosen Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Pattimura, Dr.rer.nat.Ir.A.S.
Khouw, MPhil; beliau menyatakan bahwa Teluk Ambon sudah berada pada tingkat yang boleh dikatakan
telah tercemar. Statemen ini dibuktikan dengan adanya penelitian mengenai
kandungan logam berat dalam sediment oleh salah satu mahasiswa FPIK baru-baru
ini.
Adapun hasil
yang didapati ialah konsentrasi logam berat yang ada khususnya pada area Teluk
Ambon Dalam di Desa passo dan sekitarnya, sudah berada diatas ambang batas yang
dikeluarkan oleh pemerintah. Untuk Pb (timbal), berdasarkan KEPMEN, ambang
batasnya ialah 0,08 ppm atau 8 ‰ . Sedangkan hasil penelitian yang diperoleh
yakni konsentrasi Pb = 1,17 ‰ atau dengan kata lain sudah ± 125 kali dari batas
yang dapat ditolerir.
Logikanya,
jika konsentrasi logam berat, dalam hal ini timbal pada tubuh air saja sudah
sebesar itu, bagaimana pula yang terakumulasi dalam tubuh ikan ? Pasti lebih besar lagi. Dapatkah anda membayangkan
organisme yang hidup disana, pasti akan ada pengaruhnya. Dan tidak dapat
dipungkiri bahwa dalam kandungan tubuh organisme tersebut ada konsentrasi logam
berat yang terakumulasi. Dan jika dikaitkan dengan proses makan memakan, maka
manusia pun akan terkena pengaruhnya jika mengkonsumsi hasil laut yang berasal
dari teluk, seperti ikan, tiram, udang, dan sebagainya.
![]() |
Skema diatas,
merupakan contoh sederhana rantai makanan di laut dengan manusia sebagai
konsumen akhir (tingkat tinggi), dengan asumsi bahwa organisme dari produsen
hingga konsumen tingkat 1 telah tercemar (dalam tubuhnya telah terkandung logam
berat).
Ada beberapa pendapat
yang menyatakan bahwa saat ini yang perlu dilakukan ialah aksi, bukan penelitian. Itu
benar, namun perlu dirunut kembali , aksi seperti apa yang perlu dilakukan . Dan
itu harus berdasarkan hasil penelitian, dengan begitu kita tahu sampai pada
tingkat mana masalah yang kita hadapi agar penanganan yang dilakukan juga
tepat. Jangan sampai masalahnya lain, penanganannya lain, atau simpelnya ‘
salah obat ‘. Singkatnya perlu ada penelitian ilmiah untuk menetapkan langkah
selanjutnya yang harus dilaksanakan oleh seluruh masyarakat maupun pemerintah .
Siapakah anda, mahasiswa penerus bangsa dan daerah ?
Melakukan
suatu kegiatan, tak dapat terhindar dari masalah dana, sekali lagi Pak Semy
(sapaan narasumber) menyatakan bahwa beliau ada dalam suatu pertemuan bersama
dengan Komisi 7 DPR-RI mengenai nasib Teluk Ambon ini kedepannya, namun sampai
saat ini belum ada tanggapan yang berarti.dari pihak perguruan tinggi pun,
selalu dengan alasan yang sama ‘kekurangan dana ‘. Poor we are
Kembali lagi
ke pokok masalah ; sekarang saja dapat dikatakan telah tercemar , 3 tahun
kedepan, pak Semy menyatakan bahwa ‘ kalu tidak ada penanganan yang maksimal akan
timbul bencana dan dampaknya akan sangat nyata . Hal-hal tersebut antara lain
akibat sedimentasi Lateri, maka akan terjadi perubahan topografi , dari segi
lingkungan oseanis ; mekanisme pertukaran air dalam teluk lemah, hal ini
menyebabkan sediment tidak dapat keluar. Mekanisme dalam tubuh air yakni
masuknya sediment dalam air kemudian makin banyak yang terikat, makin lama
makin tinggi, turun kedasar perairan dan terakumulasi disana . Selain itu,
banyaknya logam berat ditentukan oleh banyaknya sediment, makin lama makin
tinggi , maka akan terjadi pembesaran konsentrasi. Dan pada tahap tersebut jika
tidak ditangani dengan baik akan timbul bencana. Salah satu dampak yang akan
terjadi selain yang telah disebutkan diatas , ada lagi yang lebih buruk, yakni
mutasi gen. Coba anda bayangkan, organ-organ di tubuh yang normal, dan yang
terjadi mutasi gen, contohnya bias saja telinga akan tumbuh dibagian dimana
seharusnya ditumbuhi oleh hidung, atau mata di belakang kepala. Apakah bencana
seperti itu yang ditinggalkan untuk generasi mendatang?? Sama sekali tidak
bermaksud untuk menakut-nakuti, namun itulah yang akan terjadi bila kita lalai
terhadap diri dan lingkungan. Semakin hari, bumi kita ini tak lagi sama,
perubahan terjadi dimana-mana, alam mengamuk, ibu pertiwi menangis , banjir,
longsor, kebakaran hutan, kematian organisme dimana-mana, baik di darat maupun
lautan. Siapa yang bertanggung jawab? Kita. Kita, manusia! Yang katanya adalah
mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, malah merusak alam yang Dia ciptakan
untuk kita, yang katanya harus kita jaga. Tapi, apa yang kita lakukan, merusak
dan mengeksploitasi habis-habisan, hanya demi kesejahteraan segelintir orang
berkuasa dan menganut paham ‘ uang diatas segalanya ‘. Orang berduit senang,
yang lain menjadi korban.
Ya, hal itu
adalah dampak yang belakangan sangat santer terdengar “ Global Warming “ yang
menyebabkan perubahan iklim. Contoh nyata yang terjadi pada Teluk Ambon ialah sampah. Sampah yang pada waktu-waktu
tertentu menghiasi perairan teluk akibat hujan seiring bertambahnya waktu
semakin meningkat. Apa yang akan terjadi bila diasumsikan dengan iklim yang
tidak menentu ini, hujan tiap tahun atau bahkan setiap bulan, berapa banyak
input sampah yang diterima oleh teluk? Pastilah makin tinggi, dan tersuspensi
dalam air. Untuk sampah yang mudah hancur mungkin hanya sedikit lebih baik,
tapi bagaimana dengan sampah plastik yang tidak dapat hancur, mengendap dalam
dasar perairan, dan menghancurkan organisme yang hidup perlahan-lahan.
Menutup
wawancara singkatnya, Pak Khouw berharap agar pemerintah kota dan daerah mau melihat dan melakukan
penanganan dengan segera guna menghindari kemungkinan terburuk.
Oleh karena
itu, diharapkan mulai dari saat anda membaca tulisan ini, anda akan tergerak dan
mulai memperhatikan lingkungan. Tak perlu yang besar dan akbar, cukup dengan
yang paling sederhana: “ Buanglah sampah pada tempatnya”. (e’ Kuchienkz)
NB: Tulisan
ini ditulis pada tahun 2008, merupakan draft naskah untuk BUMI (Buletin
MATEPALA Independen) edisi 2008.
Empat tahun
berselang, sejak tahun 2008, saat ini, di tahun 2012, hal-hal yang dipaparkan
satu per satu menjadi kenyataan, banjir dan longsor yang semakin merajalela di
Kota Ambon, terutama menjadi ketakutan terbesar warga di daerah rawan banjir
saat hujan tiba. Semoga dengan tulisan ini, kita semua dapat lebih tanggap dan
sadar, bahwa alam juga perlu diperhatikan lebih lanjut. Keseimbangan alam perlu
dijaga.
Tete manis sayang
Kota Ambon.

Komentar
Posting Komentar