Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Untuk Usi Theo : Selamat Panjang Umur

Gambar
Berawal dari sok tahu, asal bunyi dan teman-temannya. Iya. Agustus lalu saya dengan begitu percaya dirinya memberikan selamat ulang tahun kepada Usi Theo. “selamat ulang tahun, maap telat :) “, begitu tulis saya. Setelah berbalasan komentar ternyata saya salah besar, saat itu bukan ulang tahun beliau. Yang berulang tahun adalah Indonesia.  Cukup malu saya dengan diri ini. Tetapi beruntung saya dimaafkan dengan permintaan memberikan hadiah pada hari ulang tahun yang tepat. 16 Oktober.  Baiklah, sejak saat itu saya punya kurang lebih 1 bulan untuk memikirkan hadiah apa yang akan saya berikan. Cukup pusing saya memikirkannya, sebab saya di Ambon dan Usi Theo di Bandung. Ucapan selamat via postingan di media sosial menjadi terlalu biasa dan telah saya gunakan hampir dua bulan sebelumnya, membungkus kado dan mengirim via JNE dicoret dengan tinta merah sebab mana mungkin meminta alamat dan dengan mudahnya menyiratkan niat saya (sebenarnya karena ongkos kirim yang mahal-hehe...

Betapa Aku Harus Lebih Sering Bepergian

Betapa aku harus lebih sering bepergian sebab disana rindu bisa kutimbun lalu ia menjadi gunung Betapa aku harus lebih sering bepergian sebab disana kita bisa saling berbicara bila tidak, kita mengalahkan patung bila tidak, tak mungkin ada pendar namamu di kotak masuk Betapa aku harus lebih sering bepergian sebab disana ada kekayaan yang tersembunyi ia sederhana dan bukan gelimang emas Pernahkah kau merasakan yang begitu meneduhkan hatimu semisal gelak tawa ibu-ibu desa yang renyah? tatapan bertanya anak tanpa alas kaki dan betapa ia senang hanya dengan pensil warna pinjaman? Betapa aku harus lebih sering bepergian di tiap malamnya ada namamu ada ketelanjangan dan pengakuan Betapa aku harus lebih sering bepergian karena pulang ialah menujumu dengan menggebu-gebu (karena tidak bisa berada pada dua tempat berbeda sekaligus)

To Travel Is To Live

Gambar
melihat warna pada kuku saya  lalu teringat seorang kawan yang juga ingin warna pada kukunya namun kelak ia tak bisa sholat dan ia memilih sholat melihat bandul kalung ini lalu merutuki diri sendiri saat gambar ini diambil adalah kali terakhir saya melihatnya melihat laut juga ombak yang datang, pergi dan datang lagi mengapa mereka mau saja dipecahkan dan memecahkan? ~ineedanewone

15 Kata Untuk Kota Ambon

Bapak bilang sudah berubah Tidak lagi terlalu bodoh Bapak bilang semakin berkurang Hutan sesak napas Untuk hutan di teluk; ~ ditulis untuk disertakan di salah satu pameran seni kreatif di kota Ambon awal Mei 2017. Tetapi karena saya salah membaca waktu batas pengiriman maka terlambatlah saya juga salah seorang teman saya ( 11.00 WIT dan saya mengira 23.00 WIT). Berpegang pada 'apa yang Tuhan buat baik' dan bukan 'penyesalan selalu datang terlambat' ; maka saya cukup lega terlambat mengirimkan. Biarlah alasan dibalik kelegaan saya ini menjadi milik saya sendiri.