Untuk Usi Theo : Selamat Panjang Umur
Berawal dari sok tahu, asal bunyi dan teman-temannya.
Iya.
Agustus lalu saya dengan begitu percaya dirinya memberikan selamat ulang tahun kepada Usi Theo. “selamat ulang tahun, maap telat :) “, begitu tulis saya. Setelah berbalasan komentar ternyata saya salah besar, saat itu bukan ulang tahun beliau. Yang berulang tahun adalah Indonesia. Cukup malu saya dengan diri ini. Tetapi beruntung saya dimaafkan dengan permintaan memberikan hadiah pada hari ulang tahun yang tepat. 16 Oktober.
Baiklah, sejak saat itu saya punya kurang lebih 1 bulan untuk memikirkan hadiah apa yang akan saya berikan. Cukup pusing saya memikirkannya, sebab saya di Ambon dan Usi Theo di Bandung. Ucapan selamat via postingan di media sosial menjadi terlalu biasa dan telah saya gunakan hampir dua bulan sebelumnya, membungkus kado dan mengirim via JNE dicoret dengan tinta merah sebab mana mungkin meminta alamat dan dengan mudahnya menyiratkan niat saya (sebenarnya karena ongkos kirim yang mahal-hehe), menulis puisi juga tidak menjadi pilihan sebab saya masih cukup waras untuk tidak memberi puisi kepada penyair yang tidak sembarang ( bila kamu demikian, sedikitpun bukan kamu tidak waras melainkan hanya saya).
Maka inilah rupa hadiah saya untuk Usi Theo:
- Puisi pertama yang saya baca didepan umum ialah ‘percakapan bibir-bibir bekas’ karya Usi Theo dan Bu Wes diluar ujian Bahasa Indonesia saat SMP belasan tahun lalu. Dibaca pada bulan Februari 2017.
- Tempat Paling Liar di Muka Bumi menjadi salah satu buku favorit saya; juga favorit untuk dibawa kemana-mana. Menyukainya sebab selain isinya yang sangat Maluku dari sisi Bu Wes juga diimbangi dengan apik oleh Usi Theo dari sisi metro (ruwetnya kehidupan di kota besar Indonesia) tanpa melepaskan identitas ketimuran keduanya; buku ini unik : tidak ada penggunaan huruf kapital pada tiap baitnya ( mungkin ini tentang kedudukan semua kita ialah sama adanya, mungkin) juga nyaris tidak ada tanda baca titik pada tiap akhir puisi ( apakah ini tentang setiap puisi tidak pernah benar-benar selesai atau tidak ada kata selesai dalam berpuisi ? ).
- Menyoal mudah dibawa kemana-mana; Maret lalu saya( dibantu junior saya) membawa buku ini jalan-jalan ke jantung Pulau Ibu untuk membunuh malam dan penat selama kurang lebih 8 hari 7 malam. Puisi-puisi mereka baca didalam tenda dome sebelum tidur ( malam ke-2 di tengah hutan Seram, 1 malam sebelum esok sore tiba didesa tujuan- Maraina ). Dibaca dengan berbagai gaya mulai dari orator demo hingga Zainuddin dalam kisah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Pun dibaca untuk menghibur kami saat sarapan sebelum melanjutkan perjalanan. Sayangnya saat itu saya tidak dapat mengambil video guna penghematan baterai menuju desa tiada berlistrik. Hanya gambar yang saya ambil. Hari-hari berikutnya buku ini telah berpindah tangan beberapa kali selama perjalanan dan baru dikembalikan saat akan kembali ke Ambon.
![]() |
| Ejon yang berharap sekembalinya dari perjalanan bisa kembali dengan mantan |
![]() |
| Target checked |





Komentar
Posting Komentar